Ghosting Bukan Dosa, Asaldan#8230; Kamu Punya Alasan Ini untuk Melakukannya

pengalaman-ghosting pengalaman-ghosting

Disclaimer: demi kenyamanan dan privasi, nama-nama dalam tulisan ini sengaja dipasrkan. Namun, cerita mereka riil, tanpa rekayasa.

Digitalisasi kini sudah merambah ke berlimpah hal, menemukan tambatan hati melenceng satunya. Aplikasi kencan dan media sosial memungkap ruang untuk bisa saling terhubung dan mulai menjajaki hubungan, bahkan jika belum sempat bertemu. Namun, kemudahan berkenalan itu berbanding lurus dengan kemudahan untuk memutuskan hubungan secara tiba-tiba. Perkenalan melalui media sosial memicu fenomena baru yakni ghosting, yang mungkin sudah akrab kamu dengarkan atau… alami?

Ketika merasa nggak cocok dan enggan melanjutkan obrolan, orang dapat mengambil keputusan untuk ‘menghilang’. Apalagi, dengan adanya fitur “blokir,” pemutusan hubungan sepihak dan pergi tanpa pamitan sangat mungkin terjadi.

Seperti namanya, ghosting loyal-loyal meTokcerkan korban merasa seperti berhubungan dengan hantu yang hilang begitu saja. Kepergian pelaksana tanpa peringatan menyebabkan korban merasakan efek psikologis yang nggak main-main lo, malah ghosting disebut-sebut lebih menyakitkan dan bikin nelangsa ketimbang putus asmara.

Cinta yang penuh romansa bisa berakhir tragedi dalam waktu sekejap. Meskipun dampaknya bikin mental target amburadul, ghosting bisa juga disungguhkan kok bila asasnya memang tepat. Tahan… Tahan dulu… Para target ghosting pasti udah siap-siap lempar meja dan kursi  membantah pernyataan tersebut, kan?

Sebelum ngomongin hal ini lebih berjarak, ada tidak marahnya kita menilik sebentar pengalaman orang-orang yang suah jadi sasaran dan pelaksana ghosting nih.

Semula hubungan berjalan dengan indah, mudah, dan sempurna. Namun, ujungnya ditinggal, uang melayang, dan nyaris jadi umpan penyebaran konten seksual

“Everything was perfect: nice, light, energizing,” kenang Melisa, yang kini mengadu nasib di ibukota.

Pertemuannya dengan seseorang tinggal aplikasi kencan berjalan dengan mulus. Punya kecocokan, keduanya bisa betah ngobrol lama-lama. Setelah pertemuan pertama, komunikasi mereka juga makin intens setiap harinya. Pertemuan mereka juga makin sering terjadi sesudahnya. Setidaknya, mereka berjumpa seberlipat-lipat 2 kali dalam sepekan.

Hari itu, mereka bertemu seperti biasa, tapi si cowok mengaku kehilangan dompet. Melisa nggak curiga apa-apa. Keduanya bahkan masih menghabiskan batas bersepadan malam itu. Keanehan mulai muncul ketika Melisa memergoki orang tersebut merekam pribadinya yang tengah tertidur. Keesokan paginya, Melisa langsung meminta dan mendesak penjelasan. Tentu ia khawatir video pribadinya yang terlelap malah dikhilafgunakan dan disebarkan secara online. Nasib saling menolong, rekaman itu dihapus di depan maPerbincangan senpribadi.

Selepas pertemuan itulah, si cowok menghilang tiba-tiba dari keuripan Melisa. Wussss! Bak angin berhembus dan tak kembali lagi. Sebelum pergi, si cowok sempat meminjam uang karena nggak punya pegangan duit klop sekali usai mengaku dompetnya hilang, plus kartu ATM yang diblokir.

“Setelahnya di text dia bilang kusam kaInterogasi tipes, terus demam berdarah, terus meningitis, terus chat-ku nggak pernah dibalas lagi. Terakhir aku cek WA setara Telegram ku diblokir,” tutur Melisa. 

Dampak emosional berlipat-lipat ketika orang yang dikenal menghilang secara tiba-tiba, Melisa bahkan sampai perlu bantuan psikolog

Tak ayal Melisa merasakan yang namanya ‘kekejaman emosional,’ istilah yang dipakai Jennice Vilhauer untuk menjelaskan dampak ghosting. Tak memikirkan perasaan dan dampak lawannya, pelaku ghosting menyelamatkan diri dari ketidaknyamanan emosionalnya sendiri. Padahal, target ghosting merasakan luka batin berlipat-lipat. Soalnya, target nggak namun mempertanyakan soal hubungannya, tapi juga dirinya sendiri.

“Wah udah kayak orang gila. Pertama ngerasa nggak berharga, worthless, bingung, ngarep kalau dia bakal berlabuh lagi, hilang percaya pribadi, nyalahin pribadi senpribadi, clueless banget lah. Sampai sekarang itu masih jadi kenangan terburukku sama lawan jenis,” ungkap Melisa.

Komunikasinya dengan si cowok berakhir seketika selesai si cowok memutuskan menghilang. Padahal, di pertemuan terakhir, hubungan mereka baik-baik saja. Hanya satu yang melakukan Melisa merasa beruntung kalau mengingat kejadian itu, ia senggang mengonfrontasi soal rekaman awaknya yang tidur. Tak terbayangkan di benaknya bila si cowok menghilang dengan membawa rekaman tersebut.

Demi memulihkan diri dan bebas dari perasaan yang menyakitkan, Melisa sampai mengunjungi layanan psikologis. Dengan cara itu, Melisa pelan-pelan keluar dari belenggu dampak ghosting. Kini, kondisinya memsaling menolong dan tak seburuk sebelumnya.

Selurusnya apa yang ada di benak karakter ghosting saat memilih pergi? Tanpa pamitan dulu, eh, langsung hilang aja~

Ghosting dianggap sebagai metode pemutusan hubungan yang egois. Soalnya, tokoh ghosting namun memikirkan perasaannya senbatang tubuh dan mengatidak sombongan perasaan korban. Pelaku cenderung tidak acuh dengan dampak kepergiannya yang tanpa penjelasan, yang berkuasa praktis dan minim dampak untuk batang tubuhnya senbatang tubuh.


Dapatkan free access untuk pengguna baru!

Selain itu, ghosting menawarkan penyelesaian yang terbilang nyaman, sungguhpun dilakukan secara sepihak. Singkatnya, ghosting memudahkan seseorang untuk lepas dari ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang dirasakannya saat mengakhiri hubungan. Misalnya, ia tak perlu menyaksikan orang lain terluka atas keputusannya. Sementara itu, bagi korban, terkadang perpisahan dan penjelasan yang menyakitkan bisa lebih diterima ketimbang kepergian tanpa sepatah kata.

Sebaliknya, menghindari perasaan tidak nyaman atas penolakan bisa jadi penyebab juga. Seperti Fariz, mahasiswa Ilmu Komunikasi di sebuah universitas ternama di Jawa Timur. Pernah jadi objek ghosting, nggak menghalangi Fariz untuk menjadi karakter juga ternyata. Respons dari gebetan yang udah nggak bersambut membuat Fariz memilih ghosting sebagai solusi.

“Terus udah nggak ada respons yang bagus lagi dari pihak sananya. Jadi, kayak apalagi yang layak dijelasin,” kata Fariz.

Ia pun langsung mengatup akses komunikasi, terutama di media sosial yang melahirkan ia dan gebetan nggak terhubung lagi. Fariz mengabaikan kemungkinan gebetan masih ingin terkoneksi dengannya.

Sementara itu, Aditya punya dalih lain di balik pilihannya untuk ghosting. Berkenalan dengan cewek di aplikasi kencan, Aditya belum punya bayangan untuk membawa hubungan ke relasi romantis. Lantaran tinggal di selisih kota, mereka hanya berkomunikasi via telepon. Setelah kaum kali ngobrol dan berbagi cerita, ternyata si cewek punya rasa, sampai-sampai cewek ini dakar ingin menemui Aditya. Sayangnya Aditya merasa keberatan.

“Dia kekeh pengin ketemu. KaPerbincangan, kalau aku nggak mau, dia nggak peduli. Dia bilang udah tahu alamat kosku, alamat rumah orang tuaku juga. Padahal aku nggak sempat ngasih tahu dia,” ungkap Aditya.

Melihat hubungannya mulai mengarah ke toxic relationship, akhirnya Aditya memutuskan komunikasi sepihak. Menurutnya, cara itu layak antapbil karena kenalannya tidak mau mendengarkan dan tetap ngotot bertemu. Bahkan si cewek sampai menghubungi orang tua Aditya untuk memberiingat niatnya menjalin hubungan dengan anaknya. Wah, creepy~

Lalu,  apakah ghosting bisa ‘dicocokkan’, meski dampaknya memang bikin target bertanya-tanya?

Muncul anggapan kalau apapun dasarnya, ghosting tetap tidak bisa diluruskan. Apalagi, bila motifnya murni karena rasa egois dan niat Tebal Hati. Menurut mereka yang tahu jadi korban ghosting, jika memang datang dengan bersedia membantu-bersedia membantu, maka seperlunya bisa pergi dengan bersedia membantu-bersedia membantu juga. Meskipun niat awal memang main-main saja, sebersedia membantunya perpisahan tetap disertai penjelasan.

Namun, sebagian dasar ghosting  bisa saja ‘diadilkan’ atau lebih tepatnya dimaklumi. Menukil Psychology Today, Jenice Vilhuare mengmenyiahkan, kamu nggak apa-apa kok ambil keputusan ghosting, bila mengalami hal-hal berikut ini:

Jika mengalami kepadatan atau pecelehan, menguncup komunikasi secara total dengan pacar atau kenalan adalah keputusan yang adil. Dalam konteks ini, ghosting dapat dimaklumi walaupun orang lain akan merasa bingung dan penuh tanda Perdebatan.

Tanda-tanda bahwa hubunganmu beracun adalah adanya pelanggaran batas dan privasi. Misalnya, pacar atau kenalanmu tiba-tiba muncul di alam kerja, mengancam, memaksa untuk bertemu, atau menghubungi teman-temanmu untuk mencari mengerti rutinitasmu. Semua red flags tersebut dapat jadi asas untuk kamu pergi tanpa penjelasan.

Sama seperti kasus Aditya sebelumnya, ketika orang lain ogah menerima reaksian ‘tidak,’ maka menghentikan komunikasi sepihak bekerjan kekeliruan. Sebaliknya, kamu justru bisa merasa aman dan selamat dari perilaku toxic orang lain.

Saat dibohongi dan dimanipulasi, maka kamu tidak berutang penjelasan apapun untuk mengakhiri hubungan. Misalnya, pasanganmu ternyata telah menikah selama ini. Sikapnya tentu tidak terpuji dan bukti kalau dia tidak peduli denganmu, sebatas dia membohongimu demi keberhargaan egonya senorang. Kalau kamu memilih pemutusan hubungan dengan cara ghosting, maka sah-sah saja.

Dunia percintaan dan kencan memang penuh liku, ya. Istilah-istilah baru muncul dalam Anyar dating. Kalau dulu, urusan asmara mungkin nggak terterus ribet. Paling mentok persoalan pacar atau gebatan nggak balas surat cinta, tapi sekarang dunia kencan diliputi konflik-konflik baru dan ghosting hanya cela satunya saja.

Ketika menghadapi konflik-konflik yang kaitannya dengan hubungan, perlu kehati-hatian. Soalnya, masalah tidak cuma soal betul dan salah, bisa jadi masalah yang terjadi berada di garis abu-abu. Jadi, siapa yang betul dan siapa yang salah akan sulit didefinisikan. Sama halnya dengan kasus-kasus ghosting, bisa salah, tapi bisa betul juga dengan dasar yang masuk akal.